Faktaborneo.com – KUTAI KARTANEGARA — Ketua DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Ahmad Yani, menegaskan bahwa masih banyak potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang belum digarap secara maksimal. Hal ini menjadi sorotan serius di tengah rencana pemangkasan anggaran daerah yang dipastikan mengurangi hampir 50 persen APBD Kukar tahun depan.
Ahmad Yani menyebut, kondisi ini harus menjadi pemicu bagi pemerintah daerah untuk lebih agresif menggali sumber pendapatan yang selama ini terabaikan.
“Hampir separuh APBD kita tahun depan dipotong. Memang nantinya 50 persen itu akan dikembalikan, tetapi kita diminta bekerja lebih dulu, mengoptimalkan potensi yang ada,” ujarnya.
Ia mengkritik bahwa sejumlah peluang PAD, terutama dari sektor pajak dan retribusi, masih tidak dijalankan secara optimal. Bahkan, menurutnya, banyak wajib pajak sudah membayar, tetapi penarikan maupun pencatatannya tidak dilakukan maksimal oleh perangkat daerah.
“Yang harus kita lakukan adalah mengoptimalkan pajak dan retribusi yang selama ini tidak dijalankan dengan baik. Banyak potensi yang tidak dikejar,” tegasnya.
Ahmad Yani menambahkan, masih banyak hak daerah yang seharusnya memberi pemasukan, termasuk dari kinerja BUMD, tetapi belum berkontribusi sebagaimana mestinya. Ia secara khusus menyoroti tiga sumber PAD yang menurutnya belum tergarap maksimal: pajak restoran, pajak air tanah, dan sektor minerba.
“Pajak restoran, air tanah, dan produksi minerba adalah potensi besar yang harus dikelola. Untuk minerba, hak daerah sudah jelas sekitar 5–6 persen,” jelasnya.
Ketua DPRD Kukar itu mengingatkan Pemkab agar segera melakukan pembenahan menyeluruh dalam sistem pemungutan pajak dan retribusi, termasuk memperketat pengawasan terhadap data produksi sektor ekstraktif.
“Data produksi minerba harus benar-benar klir. Itu dasar agar pendapatan daerah bisa dihitung dengan jelas. Dan sampai sekarang hal itu belum diurus dengan baik,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat agar pemerintah daerah segera memperbaiki tata kelola PAD demi menjaga stabilitas keuangan Kukar di tengah tekanan fiskal yang semakin berat. (Adv)











